Articles | Wisata Sejarah | 24 Mar 2015

Toko Merah: Bangunan Cagar Budaya di Kawasan Kota Tua

Kebanyakan orang saat pergi ke Kota Tua kemungkinan besar adalah untuk mengunjungi Museum Sejarah Jakarta atau yang dikenal dengan Museum Fatahillah. Tak aneh, sebab Museum Fatahillah menjadi sentral di kawasan tersebut. Menjadi bangunan yang cukup mendominasi, di antara museum lain di sekitarnya.

Padahal objek wisata di Kota Tua tak hanya berkisar museum saja. Salah satu cagar budaya yang menarik perhatian wisatawan adalah Toko Merah. Lokasinya berada tak jauh dari lapangan Fatahillah. Jika Anda menghadap gedung Museum Fatahillah, berarti lokasi Gedung Merah berada di sebelah kanan. Namun, Anda harus menyeberang Kali Besar terlebih dahulu untuk bisa melihat Toko Merah.

Beberapa kali ke Kota Tua, saya belum pernah ke Toko Merah. Lumayan penasaran, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti paket wisata kota tua dengan mengendarai sepeda onthel di sana. Sekadar informasi, sebenarnya Toko Merah bisa dikunjungi dengan berjalan kaki dari lapangan Fatahillah. Namun, memang jaraknya cukup jauh. Anda bisa menyewa sepeda onthel yang banyak tersedia di lapangan dengan tarif Rp 20.000 per 30 menit.

Dari jauh, pengunjung bisa menduga Toko Merah secara kasat mata. Sesuai namanya, Toko Merah didominasi warna merah warna paling mencolok dibandingkan bangunan di sekitarnya. Toko Merah merupakan sebuah bangunan berarsitektur kolonial jika dilihat dari jendela yang tinggi. Sebagai salah satu bangunan tertua di Kota Tua Jakarta, Toko Merah menjadi bangunan cagar budaya yang masih terus dilestarikan dan dilindungi oleh Pemda DKI Jakarta.

Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff, seorang Gubernur Jenderal yang berfungsi sebagai tempat tinggal. Bangunan yang sudah belasan kali berganti pemilik ini, menggambarkan dinamika bisnis di kawasan Batavia. Letaknya memang strategis, di dekat pusat pemerintahan dan di tepi de Groote Rivier (Kali Besar) yang merupakan urat nadi lalu lintas air.

Pemberian nama Toko Merah sendiri pun, berdasarkan salah satu fungsinya kala itu, sebagai sebuah toko milik warga Cina, Oey Liauw Kong pada pertengahan abad ke-19. Nama tersebut juga didasari pada warna tembok depan bangunan yang bercat merah hati pada permukaan batu bata yang tak diplester.

Toko Merah dibangun di atas areal dengan luas 2.455 m2 merupakan sebuah bangunan kembar dua rumah dalam satu atap. Bangunan ini terdiri dari tiga gedung yang menyatu. Bangunan depan (tingkat dua) dan belakang (tingkat tiga), membujur dari utara ke selatan, adapun bangunan tengah merupakan penghubung bangunan utara dan selatan, melintang dari timur ke barat. Arsitektur bangunan mencerminkan perpaduan bangunan Cornice House (bangunan dengan dinding muka yang ujung atasnya datar dan diberi profil-profil pengakhiran) pada abad ke-18 dan atap tropis.

Saat pergi ke Toko Merah, pengunjung bisa melihat jika bangunan ini memiliki ruangan yang cukup banyak. Di lantai dasarnya saja terdapat 16 buah kamar, 8 buah di utara, 8 buah lainnya di selatan. Di lantai dua terdapat empat buah kamar, sedangkan di lantai tiga terdapat lima buah kamar.

Cukup menarik saat dikunjungi. Anda bisa berfoto di depan Toko Merah yang telah mengalami pemugaran jadi terlihat lebih rapi dan indah. (Herti Annisa)

TAGS:

LINKS: