Articles | Wisata Sejarah | 20 Mar 2015

Makam Jan Pieterszoon Coen di Museum Wayang

Jika mengunjungi Museum Wayang di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Anda akan menemukan sembilan buah prasasti yang berada di halaman museum. Prasasti yang ditulis dalam bahasa Belanda pada abad ke-17 dan ke-18 M, menjadi sebuah penutup makam pendiri Batavia, Jan Pieterszoon Coen, beserta pejabat Belanda lainnya. Prasasti ini berada di sebelah kanan dari pintu masuk, setelah Anda membayar tiket sebesar Rp 5.000 untuk dewasa. Luas halamannya memang tak begitu besar meskipun memang cukup mencolok mengingat prasasti tersebut memiliki ukuran yang besar dengan tulisan bahasa Belanda.

Sekadar informasi, Museum Wayang dulunya merupakan sebuah gereja tua bernama “de oude Hollandsche Kerk” yang dibangun VOC pada tahun 1640. Sampai pada tahun 1732, gereja tersebut masih berfungsi sebagai peribadatan penduduk sipil dan tentara bangsa Belanda. Di tahun 1733, gereja tersebut mengalami perbaikan diubah menjadi nama “de nieuwe Hollandsche Kerk” dan terus berdiri hingga tahun 1808.

Sempat hancur akibat gempa bumi, bekas de oude Hollandsche Kerk beralih fungsi sebagai gudang miliki perusahaan Geo Whry & Co. Sesuai dengan besluit pemerintah Hindia Belanda, di tahun 1936, bangunan tersebut dibeli oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, sebuah lembaga penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan. Hingga akhirnya pada 13 Agustus 1975, bangunan tersebut diresmikan menjadi Museum Wayang. Maka, jangan heran jika memasuki Museum Wayang, Anda akan menemukan bangunan bergaya Neo Reinaissance di halaman depan. Bahkan meksipun telah dipugar, beberapa bagian gereja masih tampak terlihat.

Peristirahatan Terakhir
Nah, di halaman museum ini Anda akan melihat prasasti tertulis nama Jan Pieterszoon Coen, seorang Gubernur Jenderal yang berhasil menguasai Kota Jayakarta pada tanggal 30 Mei 1619, setelah kekuasaan P. Jayakarta lumpuh akibat pertentangan dengan Kraton Banten. Jan Pieterszoon Coen yang lahir di Belanda pada 8 Januari 1587 merupakan sebuah Gubernur Jenderal Hindia Belanda keempat (pada tahun 1619-1623) dan keenam (1627-1920). Pada tahun 1621, Heeren XVII, memerintahkan Coen untuk memakai nama Batavia untuk kota Pelabuhan Jayakarta. Kota Batavia yang dibangun oleh Coen diatas puing reruntuhan Jayakarta dengan membuat suatu kota tiruan sesuai dengan kota-kota di negeri Belanda.

Masih banyak yang meragukan jenazah gubernur yang meninggal akibat kolera ini versi lainnya menyebut Coen meninggal akibat serangan bala tentara Sultan Agung dari Mataram di MuseumWayang. Bahkan bagian Edukasi Museum Wayang, seolah mengamini keberadaan Jan Pieterszoon Coen yang masih belum jelas. Sebab pihak museum sendiripun tak memiliki data otentik perilah pemindahan makam setelah terjadinya gempa bumi.

Namun, isi prasasti tersebut tak bisa dihilangkan begitu saja, meskipun kejelasan jenazah masih simpang siur. Prasasti tersebut bertuliskan “op deze plaats stond 1640 tot 1732 de oude hollandse kerk of kruiskerk en van 1736 tot 1808 de nieuwe hollandsche kerk. in die kerken en op het terrein daarromheen, het hollandsche kerk vonden hun laatste rustplaats”

Arti: Di tempat ini dari tahun 1640 sampai dengan 1732, berdiri Gereja Belanda Lama atau Gereja Salib dan pada 1736 sampai dengan 1808 Gereja Belanda Baru. Di gereja itu dan di tempat sekeliling Gereja Belanda, mereka (telah) menemukan peristirahatan terakhir.

Isinya seolah menjelaskan bahwa tempat tersebut menjadi makam pada saat dulu. Nah, jangan lupa untuk melihat langsung prasasti makam di Museum Wayang Jakarta.

TAGS:

LINKS: